Namaku Angga Kisnovalianto, siswa kelas 8 di SMPK Santa Maria 2 Malang. Aku punya hobi yang sangat kusukai badminton. Mungkin kedengarannya biasa saja, tapi bagiku, setiap kali memegang raket dan melihat shuttlecock melayang di udara, rasanya seperti dunia berhenti sejenak. Fokusku hanya satu: memukul dengan sempurna.
Aku pertama kali kenal badminton waktu masih duduk di kelas 4 SD. Saat itu, teman-temanku sering bermain sepulang sekolah di lapangan kecil dekat rumah. Awalnya aku cuma menonton dari pinggir, memperhatikan bagaimana mereka berlari, meloncat, dan menyapu shuttlecock dengan lincah. Sampai suatu hari, salah satu teman memanggilku, "Ga, sini main aja!"
Dengan sedikit gugup, aku menerima raket pinjaman itu. Rasanya aneh di tangan, tapi begitu shuttlecock mengarah padaku, aku coba memukul… dan miss. Shuttlecock itu jatuh begitu saja di depan kakiku. Teman-temanku tertawa, tapi aku tahu itu bukan ejekan. Mereka menyemangatiku.
Sejak saat itu, aku jadi rajin bermain. Kadang di lapangan, kadang cuma di halaman rumah. Aku mulai minta dibelikan raket sendiri. Tapi tidak semua perjalanan itu mulus...
Ada satu kejadian yang masih aku ingat sampai sekarang. Waktu itu, aku sedang latihan sendiri karena ingin memperbaiki teknik pukulanku. Tapi entah kenapa, hari itu pukulanku selalu miss. Shuttlecock tidak pernah tepat sasaran, bahkan sering nyangkut di net atau malah terbang ke luar lapangan.
Karena terlalu kesal, aku... menghentakkan kakiku ke raket sendiri. Iya, raket kesayanganku patah karena kuinjak! Setelah itu, aku langsung menyesal. Raket itu adalah hadiah ulang tahunku. Aku hanya bisa menatapnya diam-diam, berharap waktu bisa diputar ulang.
Sejak kejadian itu, aku belajar untuk lebih sabar dan tenang saat bermain. Aku sadar, badminton bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga pengendalian emosi. Sekarang, setiap kali aku bermain, aku ingat raket yang pernah patah itu dan bagaimana itu mengubah cara berpikirku.
Bermain badminton bukan cuma soal menang atau kalah. Ini soal bagaimana aku belajar dari kesalahan, menghadapi rasa frustrasi, dan tetap menikmati permainan.
Dan ya meskipun dulu raketku patah karena ulahku sendiri, dari situlah aku mulai benar-benar mencintai olahraga ini.














